Siapa sangka JGTC adalah Pertunjukan Musik Jazz Tertua di Indonesia

Bagi para penggemar musik jazz tanah air siapa yang tidak tahu dengan salah satu event yang di tunggu tiap tahun nya,Jazz Goes To campus atau yang biasa kita dengar JGTC merupakan event musik jazz tertua di Indonesia. JGTC hadir sejak tahun 1976, satu tahun setelah diadakannya festival jazz tertua di dunia North Sea Jazz Festival.

Awal mula kehadiran JGTC sebenarnya cukup sederhana. Dilansir dari website resmi JGTC, ide ini muncul dari tiga orang mahasiswa bernama Candra Darusman, Wismoyo, dan Adi Padmadi yang ingin membawa perubahan pada pesta seni yang dihelat Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Mereka ingin ada sebuah konser di dalam pesta seni tersebut, yaitu konser jazz

Kami berpikir akan sangat hebat jika bisa membuat sebuah konser jazz yang sangat eksklusif menjadi lebih memasyarakat dan bisa diakses oleh mahasiswa. Karena pada saat itu, musik jazz hanya dimainkan di hotel dan bisa diakses oleh orang-orang berduit,” kata Candra.

Dengan semangat memasyarakatkan musik jazz itulah, akhirnya ketiga pemuda itu memilih jazz sebagai musik yang akan meramaikan pesta seni mereka. Mulanya mereka merencanakan kalau konser jazz tersebut hanya dimainkan oleh mahasiswa dengan mengundang beberapa musisi jazz. Tapi ternyata yang terjadi lebih dari yang mereka pernah bayangkan.

Acara yang kemudian mereka beri nama Jazz Goes to Campus itu digelar pertama kali pada 1976 di Taman FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam). Sebanyak 1.500 penonton datang untuk melihat konser jazz, dan sebagian besar dari mereka merupakan mahasiswa Universitas Indonesia sendiri. Saat itu, harga yang harus dibayar untuk menyaksikan JGTC sebesar Rp500 ribu. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan kata-kata kala Candra melihat gelaran konser jazz pertamanya. Ia melihat penonton yang datang begitu antusias untuk menyaksikan pertunjukkan jazz.

“Tempat kami menggelar acara dikelilingi oleh gedung. Orang-orang yang tidak bisa melihat dari bawah naik ke atas atap untuk menyaksikan pertunjukan kami. Itu adalah malam yang sangat membahagiakan,” ujar Candra.

Beberapa musisi yang turut meramaikan event tersebut antara lain Ireng Maulana, Jeffrey Tahalele, Oele Pattiselano, Perry Pattiselano, Benny Mustafa, and Jacky Pattiselano.

Digelar di Musim Hujan

Tahun demi tahun berlalu, JGTC pun masih bertahan. Candra sendiri masih terlibat sampai gelaran JGTC ke-5. Seiring waktu itulah beberapa pengalaman tak terlupakan dialami oleh Candra dan kawan-kawan.

Satu hal yang tak peenah beranjak dari ingatannya, kala JGTC harus digelar di musim hujan. Ia dan kawan-kawannya harus memutar otak bagaimana pertunjukan mereka tetap berjalan tanpa harus mengganggu kenyamanan penonton.


“Akhirnya kami punya ide untuk membeli sak semen dan membagikannya kepada penonton. Kami berharap, setidaknya celana mereka tidak basah ketika duduk di rumput. Itulah yang tidak bisa saya lupakan, mengingat saat itu penonton tetap terhibur dengan pertunjukannya,” kata Candra.

Seiring berjalanannya waktu JGTC pun terus berkembang dan dikemas dalam festival yang lebih besar. Mulai tahun 2009, JGTC pun menggelar roadshow ke beberapa daerah di Indonesia. Masih dengan semangat membawa jazz ke kampus dan memasyarakatkannya.

Tak hanya itu, artis-artis berskala internasional juga turut meramaikan festival kampus terbesar ini. JGTC sudah pernah memboyong musisi jazz ternama di dunia, Bob James, Nouvelle Vogue, Depapepe, Dave Koz, dan masih banyak lagi.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published.