MENINGKATKAN POTENSI PERTANIAN DI INDONESIA

Setelah dua tahun di dera pandemi covid-19 harus Komunitas Usaha Pertanian SUTA Nusantara dan PERBUMMA “Perkumpulan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Nusantara,” telah membentuk tim kerja bersama guna melakukan kordinasi antar dua lembaga tersebut, adapun tim kerja bersama tersebut memfokuskan hasil evaluasi kerja di jejaring pertanian dua lembaga tersebut diataranya:

  1. Meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia.
    Kebutuhan informasi dan komunikasi yang bersifat konsultatif, bimbingan dan pembinaan akan di kembangkan sebagai dasar pengetahuan yang dapat dipraktekan atau di simulasikan disetiap aktifitas dan kegiatan kerja di lapangan maupun dalam pengembangan usaha pertanian.
    Selain itu hal ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan skill atau ketrampilan teknis dan praktis para anggota binaan untuk kemandirian dalam pemberdayaan sumber daya manusia.
    Diharapkan akan terwujud sikap dan tindakan yang progresif dalam menghadapi problem usaha pertanian, termasuk upaya dalam pengembangan dan peningkatan usaha pertanian di tengah pandemi covid-19 dengan berbagai kebijakan dan peraturan yang ditetapkan pemerintah.
  2. Meningkat effisiensi biaya produksi melalu kemandirian pembuatan sarana produksi pertanian sendiri ditingkat lokal, misalnya pembuatan pupuk organik, pupuk kompos pembiatan bibit, benih serta peralatan teknologi yang tepat guna menyederhanakan dan memodifikasi, baik untuk pengolahan lahan, pengilahan hasil panen sampai dengan kemasan sesuai dengan kebutuhan.
    Hal ini perlu dilakukan agar biaya produksi usaha pertanian bisa rendah atau menurun, dengan effisiensi yang baik tersebut dapat mengurangi atau menghilangkan pemborosan biaya. Dan hal ini juga akan memberikan keutungan pada usaha pertanian.
  3. Meningkat produktifitas usaha yang berbasis pada kemanfaatan, keuntungan dan hasil yang berkelanjutan integratif atau terpadu.
    Optimalisasi lahan dan revitalisasi lahan menjadi diutamakan agar lahan yang ada nilai ekonominya meningkat, karena lahan adalah aset pokok yang dimiliki para petani.
  4. Mempercepat produktifitas kerja yang berorientasi pada hasil yang optimal untuk meningkatan pendapatan usaha pertanian, yang awalnya dalam satu tahun panen sekali atau dua kali harus dapat ditingkat menjadi tiga atau empat kali panen dengan strandart produktifitas hasl yang lebih baik . Pola ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan anggota dan binaan.
  5. Meningkatkan nilai produktifitas turunan.
  6. Yaitu dengan menciptakan budaya kerja vertikal value maupun horizontal value, pola pertanian tumpang sari baik dengan tanaman terpadu maupun dengan peternakan terpadu yang berbasis komunitas perlu di wujudkan dengan konsep “zero wise” atau pemanfaatan bahan baku sisa atau pengelolaan sampah atau kotoran menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
  7. Membuka peluang dan pola kerjasama, baik “Business to Business” maupun “Business to Community,” serta “Community to Community, karena tidak semua kerjasama yang berbentuk transaksi harus ada proses keuangan, namun dapat dikembangkan melalui pengelolaan sistem barter antar komunitas dan bisnis.

Demikian yang disampaikan Dadung Hari Setyo selaku Ketua Umum Pimpus KUP SUTA Nusantara dan Ketua Umum DPP PERBUMMA “Adat Nusantara,” dalam menjelaskan kepada tim redaktur kami melalui telepon seluler di bandung pada Jum’at 27 Agustus 2021.

Selanjutnya dipertegas oleh Masda sapaan Dadung Hari Setyo, bahwa strategi tersebut diatas akan diterapkan di jawa barat terlebih dahulu, dan akan dikembangkan di Baten, Lampung, Sumsel, Bengkulu, Jambi, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur dan Nusa Tenggara barat serta Nusa tenggara timur.

Bandung, 27 Agustus 2021, 11:05

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published.